Webinar Nasional : Taliban Afghanistan, Ancaman Atau Harapan

Acara Berita Resume

Resume oleh: Arnawan Dwi Nugraha

Mahasantri STKQ Al-Hikam Depok

Sabtu, 11 September 2021 dalam satu kesempatan Webinar Nasional yang diadakan oleh Institut Hasyim Muzadi (IHM), Dr. Agung Makbul, Drs., S.H., M.H., selaku narasumber pada acara tersebut menyebutkan bahwasanya berdasarkan data dari Kepala Bagian Operasional Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri disebutkan bahwa kemenangan kelompok Taliban di Afghanistan akan memicu ketertarikan kelompok radikal di Indonesia, mengingat sejak tahun 1980-an, Afghanistan adalah tempat training ground dan battle ground orang yang dicap teroris, termasuk dari Indonesia. Keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan juga memicu kekhawatiran akan perkembangan gerakan terorisme dan ekstremisme di Indonesia. Narasumber mengatakan bahwasanya kekhawatiran ini didasari oleh beberapa gerakan keagamaan yang dianggap fanatik di Indonesia, pandai dalam mencari momentum, serta mudah terlena dengan pemberitaan di media sosial yang belum terbukti kebenarannya. Meskipun eksodus warga Afghanistan tidak sampai ke Indonesia, akan tetapi antisipasi tentu wajib dilakukan, terutama dengan adanya indikasi bahwa gerakan-gerakan tersebut termotivasi untuk mendirikan negara Islam atas keberhasilan Taliban.

Beliau juga menukil pernyataan K.H. Said Aqil Siraj selaku ketua tanfiziyah PBNU bahwa keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan ini pasti akan dijadikan motivasi dan membangkitkan semangat kelompok radikal di Indonesia. Selain itu, ketua Tanfiziyah PBNU menambahkan bahwasanya untuk menghindari gejolak kelompok radikal di tanah air, BIN akan mengawasi beberapa organisasi agar tidak memancing serangan teror di Indonesia, seperti Jamaah Islamiyah (JI), Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan gerakan-gerakan lainnya.

Menurut Agung Makbul, ada beberapa langkah yang akan diambil oleh Menko Polhukam untuk menyikapi fenomena Taliban yang saat ini terjadi. Pertama, memberikan pemahaman wawasan kebangsaan dan konsep moderasi beragama kepada seluruh elemen masyarakat, baik secara online maupun offline. Kedua, berkolaborasi dengan BIN dan BNPT untuk melakukan deteksi dini secara langsung maupun melalui media terhadap kelompok-kelompok ekstremis keagamaan di Indonesia yang memiliki kedekatan ideologi dan jaringan dengan Taliban guna menjaga stabilitas politik, hukum, dan keamanan. Ketiga, mengawasi beberapa organisasi agar tidak termotivasi dengan kemenangan Taliban, sebab Pancasila adalah final. Keempat, melakukan pendekatan yang masif terhadap para alumni Afghanistan, oleh karena Taliban dalam merebut kekuasaan terjebak dalam aksi teror yang secara hukum di Indonesia dianggap sebagai perbuatan yang tidak dibenarkan.

Kemudian, Agung Makbul juga menyampaikan beberapa pesan dari Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD selaku Menko Polhukam terkait Afghanistan pada kesempatan IHM seri ke-16 sebagai berikut.

  1. Siapapun yang melakukan tindakan terorisme serta mengganggu ketentraman masyarakat Indonesia akan ditindak dan diburu sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, terlebih dengan kemenangan Taliban di Afghanistan sempat menyebabkan kondisi dalam negeri memanas,
  2. Apa yang terjadi di Afghanistan saat ini menjadi suatu peringatan bagi bangsa Indonesia bahwa mengelola negara tidaklah mudah,
  3. Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia yang dapat mempersatukan segala perbedaan, Pancasila tidak mengurangi hak warga negara Indonesia untuk menganut kepercayaan menurut agama masing-masing. Oleh karenanya, tidak ada ruang bagi gerakan yang mencoba mengusik NKRI,
  4. Kita tidak akan mendiskusikan, apakah Taliban itu teroris atau bukan. Akan tetapi, pemerintah akan tegas dalam menangani dan menindak tindakan terorisme dan radikalisme, apakah itu Taliban atau bukan,
  5. Memutus mata rantai terorisme dan radikalisme di Indonesia juga tidak kalah penting dari upaya mengatasi covid-19. Selain itu, setelah kemenangan Taliban, pemerintah telah melakukan langkah-langkah awal untuk membendung potensi tindakan teror di berbagai daerah.

Dengan demikian, peristiwa Taliban tersebut bisa menjadi momentum untuk meningkatkan pengawasan terkait upaya preventif pemerintah dalam membendung terorisme dan radikalisme. Selanjutnya, membangun serta menyebarkan konsepsi Islam rahmatan lil ‘alamin sebagaimana yang digagas oleh mendiang K.H. Ahmad Hasyim Muzadi.

Berangkat dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan secara langsung tidak terdampak terhadap kondisi politik dalam negeri. Sebab, pada dasarnya masalah tersebut adalah masalah dalam negeri Afghanistan. Namun, keberhasilan Taliban juga dapat memicu dan memotivasi gerakan radikal yang ada di Indonesia karena beberapa organisasi bersikap spartan dan mudah terperdaya dengan informasi yang belum tentu kebenarannya. Pemerintah tidak akan memberi ruang bagi gerakan radikalisme di Indonesia dan akan terus memberantas segala bentuk tindakan radikalisme yang berupaya mengganggu keutuhan NKRI.

Berbagi :