Arus cepat dinamika dunia modern mengharuskan semua orang bergerak cepat. Siapa yang terlambat maka dia akan tertinggal. Dunia sekarang memuai dalam panggung kompetisi. Setiap orang bertaruh menjadi yang unggul paling cepat untuk bertahan hidup, cepat beradaptasi, dan lainnya.
Model ini kemudian menghadirkan rasa takut untuk tidak dapat bersaing, khawatir dihinggapi rasa cemas dan keinginan terburu-buru. Akhirnya, banyak orang menjalani hidup tapi miskin akan makna dan moral. Apa arti sejati dari hidup yang dijalani. Inilah tantangan besar bagi manusia modern sekarang.
Bahasan kali ini, ingin memperdalam lebih jauh esensi penting di balik syariat ibadah puasa. Sebuah ibadah yang tidak sekadar menahan makan dan minum tapi berpengaruh dalam pembentuk moral dan karakter apalagi dalam menghadapi dunia modern sekarang.
Dalam hal inilah, pesan penting dari ibadah puasa itu hadir. Umat Islam diwajibkan puasa sebulan penuh di bulan Ramadan sebagaimana yang tertuang dalam Al-Baqarah ayat 183.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Shiyam secara bahasa berarti imsak (menahan diri). Sementara dari segi istilah atau syar’i ialah menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar di waktu subuh hingga terbenamnya matahari pada waktu azan magrib. Ibnu Asyur dalam tafsirnya, menambahkan fungsi puasa li ajli qurbah (mendekatkan diri kepada Allah). (Ibnu Asyur, Tahrir wa Tanwir, Juz 2 [Dar At-Tunisiah], halaman 155)
Sementara umat terdahulu dikenakan syariat puasa dengan beragam cara, salah satunya dengan menahan diri dari berbicara. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Siti Maryam dan Nabi Zakaria alaihissalam. Al-Quran menceritakan bagaimana puasanya Maryam.
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا ۚفَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا ۚ
Artinya: “Makan, minum, dan bersukacitalah engkau. Jika engkau melihat seseorang, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”
Puasa Media Memperlambat Ritme
Dari pengertian ini, sepintas kita mengerti jika puasa adalah ibadah fisik. Tapi jika kita mau menelusurinya lebih jauh, puasa tak hanya berakhir dalam hal menahan lapar dan dahaga semata, tapi juga menaruh pesan bagaimana kita sejenak berhenti mengambil jeda dan memperlambat ritme aktivitas.
Dalam gambaran dunia yang serba cepat, banjir notifikasi, konsumsi instan, puasa menghadirkan pertanyaan, kapan terakhir kita benar-benar melambat. Tidak terbawa dalam arus tersebut. Memilih sejenak tidak bertarung dan berkompetisi. Di situlah, pesan di mana umat Islam disuruh menahan lapar dan dahaga dengan durasi beberapa jam.
Makan dan minum yang ditahan mengajarkan untuk menunggu sejenak. Di mana ketika tidak berpuasa, peluang makan minum bebas tanpa batas. Pun, dalam hidup yang serba cepat ini, kita seakan spontan merespon segala dinamika yang terjadi. Puasa hadir menumbuhkan rasa sadar ada waktu di mana kita harus memilih bersabar dan tidak memilih menjawab itu semua.
إذا أصبَحَ أحدُكم يومًا صائمًا، فلا يرفُثْ ولا يَجهَلْ، فإنِ امرؤٌ شاتَمَه أو قاتَلَه، فلْيَقُل: إنِّي صائِمٌ، إنِّي صائِمٌ
Artinya: Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berbuat keji berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa'” (Imam Muslim, Shahih Muslim, Juz 2, [Dar Ihya Turots: Beirut] halaman 806)
Puasa menjadi perisai kita dalam menghadapi dunia modern yang selalu memaksa sibuk bereaksi, bukan berefleksi. Lewat puasa, ketika dituntun untuk tidak menanggapi semua hal meskipun punya hak. Ketika celaan datang, kita punya hak membela harga diri kita yang dihinakan. Tapi puasa menuntun kita untuk tidak bereaksi membalasnya.
Puasa Merefleksikan Hidup
Selanjutnya, ketika berani memilih memperlambat ritme maka makna akan muncul. Lewat perenungan mendalam, puasa membuka makna bahwa lapar adalah guru bukan musuh. Guru spiritual yang mengajari adakalanya kenikmatan perlu sementara ditunda sebagai sarana memperdalam rasa syukur.
Puasa menjadi latihan untuk menahan rasa emosi-ego dan self control dalam pelbagai perbuatan dan tindakan. Karena diri manusia secara fitrah sejak awal memiliki nafsu. Nafsu itulah yang membuatnya menginginkan sesuatu. Puasa diperlukan sebagai alat yang dapat mencegah nafsu bertindak liar lewat kesadaran moral dalam ucapan dan tindakan.
Dalam penelitian yang ditulis oleh Lilis Karnia, lewat puaasa dapat membantu individu mengatasi masalah emosional dan mental dengan lebih baik. (Lilis Karlina, Dampak Puasa Terhadap Kesehatan Mental Perspektif Al-Qur’an dan Hadist, Jurnal Amsal Al-Qur’an: Jurnal Al-Qur’an dan Hadis, Vol. 1, No. 3 November 2024)
Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebutkan sirr puasa sebagai media yang dapat menaikkan derajat manusia selevel dengan malaikat.
أَنَّ الْمَقْصُوْدَ مِنَ الصَّوْم التَّخَلُّقُ بِخَلْقِ مِنْ أَخْلَاقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ الصَّمَدِيَةُ وَالاِقْتِدَاءُ بِالمَلَائِكةِ فِي الكَفِّ عَنِ الشَّهَوَاتِ بِحَسْبِ الإِمْكَانِ فَإِنَّهُمْ مُنَزَّهُوْنَ عَنِ الشَّهَوَات
“Maksud puasa ialah meniru akhlak samadnya (tempat bergantung) Allah dan meneladani malaikat yang dapat mencegah dorongan syahwat semampunya karena mereka terbebaskan dari beragam syahwat.” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Juz 1, [Dar Al-Ma’rifah: Beirut] halaman 234)
Manusia secara level berada di atas hewan karena dilengkapi akal yang dapat mengendalikan nafsunya. Pun, berada lebih rendah daripada malaikat yang telah steril dari nafsu. Ketika mampu menundukkan hawa nafsunya, manusia bisa setara dengan para malaikat. Tapi, sebaliknya jika nafsu malah mengontrol dirinya dia akan sama kedudukannya dengan hewan.
Melalui pemaknaan ini, puasa menghadirkan arus yang berlawanan dengan dunia modern. DI kala dunia memuja kecepatan sebagai tolak ukur keberhasilan yang menyebabkan manusia terjebak dalam pola hidup reaktif, puasa menawarkan penundanaan. Bukan terus bereaksi tapi belajar mengendalikan respon. Diam bukan tanda lemah tapi bentuk kendali diri.
Dengan demikian, puasa bukan hanya ritual tahunan tapi juga sebagai ajang refleksi eksistensi diri. Merespon dinamika hidup di dunia sekarang tidak harus cepat tanggap, bisa lewat ruang hening menyadari arah hidup yang sedang dijalani. Di situlah bentuk pengendalian hawa nafsu manusia yang bisa mengangkat tinggi derajatnya.
