JAKARTA – Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok melakukan kunjungan studi banding ke Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta pada Rabu (28/01/2026).
Selain mempererat silaturahmi, kunjungan ini menjadi ruang diskusi mendalam mengenai transformasi tata kelola pendidikan tinggi dan adaptasi kurikulum berbasis Al-Qur’an di era modern.
K.H. Hilmi, menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk “silatul ilmi” kepada IIQ Jakarta yang telah lebih dulu berdiri.
Beliau menyoroti pentingnya peran lembaga pendidikan dalam mengawal lulusannya agar siap terjun ke masyarakat.
“Fokus utama kami bukan hanya proses pendidikan di kampus, melainkan bagaimana lembaga mampu mengawal alumni agar siap meniti karier, baik di dunia kepesantrenan maupun dalam mengimplementasikan nilai-nilai Islam Rahmatan Lil Alamin,” ungkap K.H. Hilmi.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Subur Wijaya menjelaskan bahwa STKQ Al-Hikam hadir membawa jajaran dosen dan pejabat struktural untuk menggali pengalaman IIQ dalam menghadapi regulasi pendidikan tinggi terkini. Menurutnya, kolaborasi antar-kampus adalah kunci pertumbuhan institusi.
“Kami ingin mendapatkan masukan strategis mengenai instrumen pengelolaan perguruan tinggi agar tetap relevan dan akuntabel. Hal ini termasuk adaptasi kurikulum yang mampu menjaga kedalaman ilmu Al-Qur’an namun tetap selaras dengan standar nasional pendidikan yang dinamis,” jelasnya.
Baca Juga : Penutupan Puasa Arbain STKQ Al-Hikam Depok Angkatan XIII: Menyatukan Spiritualitas, Ilmu, dan Ziarah Ruhani
Beliau juga menambahkan bahwa langkah ini merupakan upaya melanjutkan perjuangan para pendiri, yakni K.H. A. Hasyim Muzadi dan para muassis IIQ Jakarta.
Pihak IIQ Jakarta menyambut hangat kehadiran rombongan Al-Hikam.
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IIQ, Dr. Ulinnuha, berharap persahabatan ini terus berlanjut sebagai bentuk sinergi antar Institusi.
“Kita adalah penyambung estafet dari para muassis (pendiri).
Diskusi ini akan mengalir saja, apa yang dibutuhkan, kami siap mendampingi dan berkolaborasi, baik dalam bidang penelitian maupun pengabdian masyarakat,” ujar Dr. Ulinnuha.
Sebagai penguatan teknis, Direktur Program Pascasarjana IIQ, Dr. Azizan, memaparkan strategi institusinya dalam mengintegrasikan pembinaan Al-Qur’an ke dalam kerangka akademik formal. Salah satunya melalui optimalisasi Lembaga Tilawah Al-Qur’an (LTQ).
“Unit pembinaan khusus kini berfungsi sebagai ‘laboratorium akademik’. Kami mentransformasi pembinaan tradisional menjadi data yang terdokumentasi rapi sesuai standar akreditasi nasional.
Sinkronisasi antara idealisme institusi dan regulasi negara adalah kunci agar kualitas lulusan diakui secara profesional dan memiliki daya tawar tinggi,” tegas Dr. Azizan.
Pertemuan ini ditutup dengan komitmen kedua lembaga untuk terus bersinergi dalam mencetak kader-kader Qurani yang unggul, profesional, dan mampu menjawab tantangan zaman.
